Wednesday, April 18, 2007
Ya'ahowu
Kata Ya'ahowu bisa jadi merupakan kata baru bagi Anda. Namun, bagi orang yang lahir di Pulau "Beo" Nias atau pernah berkunjung ke Nias, kata ini begitu familiar. Bunyinya agak mirip-mirip dengan Yahoo ya. Akan tetapi, kedua kata itu tidak sekelas apalagi bicara makna. Jauh...! Yahoo adalah mesin pencari (search engine) di internet. Sementara 'ya'ahowu' adalah kata yang setara dengan 'horas' bagi saudara-saudara kita di Tapanuli, yang artinya selamat, semoga kamu diberkati Tuhan.

Cobalah masukkan kata 'ya'ahowu' dalam mesin pencari Yahoo, ada 874 entri, sementara di mesin pencari Google hanya tersedia 504 entri. Ini sedikit sekali bila dibandingkan dengan jumlah entri kata 'Horas', yang di Yahoo mencapai 59,900,000 dan di Google, lebih fantatis lagi, mencapai angka 191,000,000 entri. Ini menunjukkan betapa kata ya'ahowu masih kalah populer dengan horas. Ini juga bisa menjadi indikasi bahwa pengguna internet orang Tapanuli lebih banyak daripada orang Nias.

Dalam tradisi Nias, kata ya'ahowu selalu mengawali pertemuan dua orang yang berkomunikasi, baik secara tatap muka maupun tidak. Orang yang disapa dengan kata itu akan membalas dengan ya'ahowu juga, dan baru dilanjutkan dengan obrolan lain, misalnya dengan menanyakan kabar, dengan mengatakan hadia duria (apa kabarmu)? dan biasanya dilanjutkan dengan menawarkan afo (sirih) atau rokok. Selanjutnya baru masuk ke dalam inti pembicaraan. Anda yang bertemu dengan orang Nias, sapalah mereka dengan kata ya'ahowu. Dijamin mereka akan sangat senang dan komunikasinya akan lancar.

Kata ya'ahowu juga tidak hanya dipakai untuk sapaan. Ketika seseorang yang mendapat pertolongan Anda atau memperoleh kebaikan dari Anda, maka orang tersebut akan memberkati Anda dengan kata ya'ahowu ndra'ugö yang artinya semoga kamu mendapat berkat. Dari konteks ini lahirlah kata nifahowu'ö (yang diberkati), samahowu'ö (yang memberkati), tefahowu'ö (terberkati).

Melihat proses pembentukan katanya, bisa jadi akar kata ya'ahowu adalah howu-howu (berkat). Kata howu-howu dirangkai dengan kata ya'a yang berarti semoga. Sama seperti pada kata ya'akhozi (semoga terbakar), ya'afatö (semoga patah).

Selain itu, untuk mengucapkan selamat hari Natal, misalnya, orang Nias juga menyatakannya dengan Ya'ahowu Wanunu Fandu. Demikian juga dengan Ya'ahowu Ndröfi Sibohou untuk Selamat Tahun Baru. Namun, untuk mengucapkan selamat hari ulang tahun tidak pernah diucapkan dengan Ya'ahowu Luo Wa'atumbömö. Ini mungkin terkait dengan kebiasaan orang Nias pada zaman dulu bahkan hingga sekarang yang jarang merayakan hari kelahirannya.

Read more!
posted by Apollo Lase @ 10:16 PM   3 comments
Tuesday, April 10, 2007
Perpanjang SIM
Di Jakarta sudah ada layanan perpanjangan surat izin mengemudi (SIM) dengan bus keliling. Bagi yang memperpanjang SIM, khususnya warga yang ber-KTP DKI Jakarta, ini merupakan kabar baik karena tidak perlu harus datang ke Daan Mogot, Jakarta Barat, yang selama ini merupakan tempat pemusatan pengurusan SIM di Jakarta, cukup datang ke tempat-tempat di mana bus keliling dari Kepolisian Daerah Metro Jaya mangkal atau datang langsung ke bagian Samsat Polres terdekat. Karena berkepentingan lalu saya mencari informasi tentang ini melalui pencarian di Google.


Dan, aku berhasil mendapatkan informasi seperti yang ada di sini, di sini, dan di sini. Masukan-masukan dari informasi ini lumayan juga. Aku pun jadi tahu apa yang harus dipersiapkan sebelum sampai ke kantor polisi. KTP dan SIM lama pun saya fotokopi secukupnya, dan tentu berdandan rapi seperti yang disarankan.

Setelah mencoba mengirimkan SMS ke 1717 untuk menanyakan lokasi bus SIM keliling pada hari Senin (9/4) itu dan mendapatkan jawaban "masih belum ada jadwalnya", aku pun memutuskan untuk melupakan layanan bus keliling ini. Perhatianku tertuju pada saran seorang teman untuk ke Polres terdekat saja. Setelah nanya sana-sini, akhirnya Polres terdekat adalah Polres Jakarta Selatan, di Jalan Wijaya II, Jakarta Selatan.

Sampai di kantor Polres Jaksel sekitar pukul 08.00, begitu sampai di tempat parkir, tukang parkirnya menawarkan jasanya untuk membantu mengurus keperluanku. Dengan halus, aku pun menolak tawarannya dan aku langsung masuk.

Sampai ke pintu masuk, ada papan penunjuk arah ke kanan "SIM". Aku pun berbelok ke kanan. Tak jauh dari situ ada loket. "Mau memperpanjang SIM di sini ya Bu," tanyaku kepada seorang pegawai di loket pertama melalui lubang yang ada. Pegawai perempuan itu pun menjawabku dengan sopan, "Oh di sebelah Mas." "Oke, terima kasih Bu, jawabku sambil tersernyum tentunya. Aku langsung ke loket sebelah dan "Ada fotokopi KTP dan SIM lama, serta asli SIM lamanya Mas?" kata seorang bapak berkacamata dari dalam loket. "Mas, biayanya Rp 120.000," kata bapak berdasi merah dan berkumis itu. "Oh, iya Pak, sebentar," jawabku sambil mengambil uang dari dompet. "Ini Pak," tiga lembaran lima puluhan ribu pun berpindah tangan. Bapak yang dalam loket itu terlihat melekatkan fotokopi KTP, fotokopi SIM, dan asli SIM lama dengan steples di selembar form. "Ok Mas, silakan foto di loket sebelah," kata bapak itu sambil menyerahkan berkas dan tiga lembar uang sepuluh ribuan.

Aku lalu ke loket sebelah. Bubuhkan tanda tangan di secarik kertas yang disediakan dan lalu duduk menghadap kamera yang disambungkan ke sebuah komputer. "Hadap ke kamera ya Mas. Ya, kiri dikit, ya stop," kata Ibu yang saya tanya ketika baru saja sampai. "Klik," "Sudah Mas. Bubukan cap jempol di sini. Silakan Ambil di loket sebelah ya SIM-nya," kata ibu juru potret itu.

Baru saja mau duduk di tempat tunggu, dari loket pengambilan SIM seseorang memanggil namaku. "Bapak Apolonius Lase...," kata seorang Bapak di loket itu. "Yap, saya Pak," aku pun menerima SIM baruku, SIM C. "Wah cepat sekali ya," gumamku. Pukul 08.15 sudah sampai ke tempat parkir lagi untuk pulang ke rumah.

Read more!
posted by Apollo Lase @ 10:48 PM   3 comments
Saturday, April 07, 2007
Pengecut
Kita semua tentu pernah naik kendaraan umum, baik itu bus, pengangkutan dalam kota (angkot), kereta api maupun lainnya. Imbauan untuk tidak merokok pada kendaraan umum juga sering kita baca, terutama pada bus yang berpenyejuk udara (AC). Namun, sepertinya ada yang salah dalam penafsiran imbaun untuk tidak merokok di kendaraan umum atau di tempat umum ini. Larangan merokok seakan-akan hanya berlaku untuk tempat ber-AC. Selebihnya boleh. Ini bisa kita buktikan bahwa di setiap bus non-AC pasti kita temukan penumpang yang merokok tanpa memedulikan kenyamanan penumpang lain.

Pengalaman saya saat naik bus dari Sindalayang menuju Jakarta beberapa hari lalu mungkin menjadi bukti nyata. Penumpang yang duduk di dekat saya berdiri menyulut rokoknya setelah pasangannya memberi restu bahwa “ini kan bukan bus AC”. Jadi, kalau bukan bus AC, penumpang boleh merokok? Wah, sekolah di mana tuh orang ya?

Asap rokok memang sangat mengganggu orang yang ada di sekitar perokok itu. Kalau saja saya bisa menghindar dan menjauh dari penumpang perokok bertato yang pengecut itu, saya akan lakukan. Tetapi, ini bus gitu loch…! Padat pula.

Berkali-kali saya menunjukkan ekspresi bahwa saya terganggu dengan asap rokoknya. Aku menutup hidung dan sekali-kali batuk, dan memang saya batuk benaran, walau sedikit berakting. Namun, perokok itu tetap saja merokok, walau mengisap rokoknya dengan bungkuk-bungkuk. Dasar pengecut. Atau aku ya yang pengecut, tidak berani menegurnya. Bagaimana coba caranya menegur orang seperti itu?

Read more!
posted by Apollo Lase @ 12:48 AM   1 comments
Postingan Terakhir
Info Lain
Postingan Bulan Lalu
Pesan dan Kesan
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
Sahabat Terbaikku
Free Hit Counter
Free Hit Counter